PDRI- Penyambung Lidah Rakyat

  1. Kata Pengantar
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan laporan kunjungan yang telah dilakukan pada 6-7 Mei 2017 dalam bentuk isinya yang sederhana. Semoga makalah ini dapat menjadi sumber bacaan acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan saya semoga makalah ini dapat membantu pembaca untuk menambah pengetahuan. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya mengharapkan para pembaca dapat memberikan masukan-masukan yang membangun agar lebih baik kedepannya.





Padang, 16 May 2017
Mesy Afrilia




BAB I
PENDAHULUAN
  1. Peristiwa atau kejadian
    Belanda melakukan Agresi Kedua , Belanda dengan konsisten tetap berusaha memecah belah bangsa Indonesia, selain melakukan pendekatan kepada orang-orang Indonesia yang bersedia bekerja untuk Belanda.
    Seiring dengan penyerangan terhadap Bandar udara Maguwo, pada hari tanggal 19 Desember 1948, Wakil Tinggi Mahkota Beel berpidato di radio dan menyatakan bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Renville. Penyerbuan terhadap seluruh wilayah termasuk serangan terhadap Ibukota RI, Yogyakarta yang kemudian dikenal dengan Agresi Belanda II dimulai.
    Penyerangan terhadap Ibukota Republik , diawali dengan pemboman atas lapangan terbang Maguwo di pagi buta. Pukul 05.45 lapanga terbang Maguwo dihujani bom dan tembakan mitraliur oleh 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk.
    Serangan terhadap Yogyakarta juga dimulai dengan pemboman serta penerjunan pasukan payung di Kota Yogyakarta. Di daerah-daerah lain di Jawa Timur, dilaporkan bahwa penyerangan bahkan telah dilakukan sejak tanggal 18 Desember malam hari.
    Segera setelah mendengar berita bahwa tentara Belanda telah memulai serangannya, Panglima Besar mengeluarkan perintah kilatbyang dibacakan di radio tanggal 19 Desember 1948 pukul 08.00. Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi, akhirnya Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak meninggalkan Ibukota.
    Mendengar berita bahwa Yogyakarta telah diduduki oleh tentara Belanda dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember 1948 sore hari, Mr. Syarifuddin Prawiranegara berasama kol. Hidayat Panglima Tentara dan Teriotorium Sumatera, mengunjungi Mr. T. Mohammad Hassan, Ketua Komisaris Pemerintahan Pusat di Kediamannya, untuk mengadakan perundingan. Malam itu juga mereka menginggalkan Bukittinggi menuju Halaban, perkebunan teh di Selatan kota Payakumbuh.
    Di Sumatera Barat, tentara Belanda dapat menduduki Kota Padang Panjang pada 21 Desember 1948, dan sehari kemudian mereka bergerak memasuki kota Bukittiggi. Saat itu, sejumlah tokoh Pemerintah Republik Indonesia berkumpul di Halaban, dan pada 22 Desember1948 mereka mengadakan rapat yang dihadiri antara lain oleh Syarifuudin Prawirangera, Mr. T.M. Hassan, Mr.St.M.Rasyid, colonel Hidayat, Mr. Lukman Hakim, Ir. Indracaya, Ir. Minanti sitompul, Maryono Danubroto, Direktur BNI Mr.A.Karim, Rusli Rahim dan Mr. LAatief. Pada rapat itu diputuskan untuk membentuk Pemerintah darurat Republik Indonesia (PDRI), dengan seusunan sebagai berikut:
  1. Mr. Syarifuddin Prawiranegara, Ketua PDRI/ Menteri Pertahanan/Menteri Penerangan/Menteri Lusr Negeri
  2. Mr. T.M. Hassan, Wakil Ketua PDRI/ Menteri Dalam Negeri/Menteri PPK/Menteri Agama
  3. Mr. St. M. Rasyid, Menteri Keamanan/Menteri Sosial,Pembangunan,Pemuda
  4. Mr.Lukman Hakim, Menteri Keuangan/Menteri Kehakiman
  5. Ir.M. Sitompul, Menteri Pekerjaan Umum/Menteri Kesehatan
  6. Ir. Indracaya, Menteri Perhubungan/ Menteri Kemakmuran.
Kapten Dartoyo, Kepala Perhubungan MBT Yogyakarta menuturkan, berita mengenai pemberian mandat tersebut dikirim melalui radiogram pemancar radio AURI di Wonosari, karena pemancar radio MBT telah dibom Belanda pada pagi hari itu. Panglima besar Jenderal Sudirman menyatakan mendukung penuh berdirinya PDRI.




BAB II
PEMBAHASAN

Pada tanggal 6-7 Mei 2017, penulis berserta teman-teman Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Padang angkatan 2014 melakukan perjalanan ke Koto Tinggi untuk menelusuri jejak peninggalan PDRI menggunakan 3 bus pariwisata dan ada juga mobil pribadi yang dibawa oleh dosen kami. Setelah memasuki wilayah Koto Tinggi, kami menempuh kesulitan karena jalan yang kami tempuh lumayan buruk dan juga terjal. Pada malam tersebut, hujan germis mengguyur dan jalanan menjadi becek, jalanan yang sempit dan memiliki banyak tanjakan tersebut membuat kami didalam bus 3 berhenti untuk berkaraoke dan duduk tenang karena jalan tanjakan yang mengerikan itu.
Kami tiba di PNPM tempat kami bermalam sekitar pukul 20.30. Gedung PNPM berlantai dua, lantai satu untuk laki-laki dan dilantai dua untuk perempuan. Setelah beres-beres, dan Sholat Isya kami makan malam bersama dilantai bawah. Setelah makan malam, kami mengadakan rapat mengenai acara yang akan dilaksanakan besok hari. Setelah itu kami beristirahat.
Keesokan harinya, pagi jam 09.00 kami melakukan perjalanan ke monumen nasional PDRI. Sepanjang jalan, kami melihat banyak sawah, hutan, sungai dan pohon-pohon jeruk. Setelah tiba dilokasi, kami langsung menyambung perjalanan dengan berjalan kaki yang lumayan jauh. Jalan yang sangat terjal dan berbatu membuat kami kesulitan untuk melangkah. Setelah berjalan kaki yang cukup jauh, kami mendapatkan dua buah bangunan yang belum jadi (masih berupa atap) dan tangga-tangga. Setelah kami mengambil beberapa gambar, kami langsung melihat master plan dari bangunan tersebut. Disana kami dapat mengetahui dari filosofi bangunan tersebut yang berhubungan dengan konsep-konsep historis.
Setelah melihat-lihat kedalam ruangan master plan, kami kemudian dikumpulkan untuk mendengarkan penjelasan dari Bapak Wali Nagari, yaitu bapak Yonggy Fadly. Beliau menjelaskan bahwa lahan dari Monumen Nasional tersebut merupakan lahan pemberian dari tiga datuk yang berada ada 800 mdpl dan menceritakan tentang dua bangunan yang akan dijadikan museum semua yang berkaitan dengan PDRI, tidak hanya dari Sumatera saja namun dari mana saja dari awal hingga penyerahan kedaulatan kembali. Akan dilengkapi dengan bukti-bukti yang berkaitan dengan PDRI, termasuk pemancar radio yang selalu dibawa oleh para pejuang pada masa PDRI.
Beliau juga menceritakan kisah tentang perjuangan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia ini. Beliau menngatakan bahwa PDRI adalah pemerintahan mobi, pemerintahan yang selalu berpindah-pindah. Tidak menetap di satu lokasi karena nanti pasti akan dihancurkan oleh Belanda. Para pejuang menggotong pemancar radio (sender) yang menjadi jantung bagi berlangusngnya Pemerintahan Republik Indonesia. Dengan adanya pemancar radio tersebut, pejuang dapat memberitahu kepada dunia Internasional bahwa Indonesia masih ada dan akan terus melawan penajajah Belanda. Hal inilah yang kemudian memuat PBB angkat suara mengenai permasalahan di Indonesia.
Beliau mengatakan bahwa pemancar radio itu pernah jatuh, sambil menangis karena merasakan perjuangan rakyat dan betapa sakitnya perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Ia mengatakan lagi bahwa pemancar radio itu hendak diantakan ke rumah Mr.Muhammad Yaqub, namun tidak sampai-sampai karena alat itu terjatuh ke sungai Sariah. Mr. Muhammad Yaqub mengatakan “Indonesia sudah berakhir”.
BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
    PDRI bukan hanya sebuah pemerintahan darurat, tetapi juga perjuangan yang sangat luar biasa. PDRI tidak menetap disuatu tempat dan tidak memiliki gedungnya sendiri. PDRI berada ditengah hutan belantara berjuang bersama rakyat bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang berada dibawah tekanan bangsa Belanda yang ingin kembali menjajah.
    Pada periode PDRI, pertisipasi masyarakat lokal memainkan peran sentral. Masyarakat ikut berjuang bersama para tokoh selama delapan bulan, bahkan untuk mencukupi gizi para pejuang pun terpenuhi. Bapak Nurmalis, seorang narasumber mengatakan; “Seandainya pohon-pohon pisang bisa berbicara, dia akan memberitahu berapa banyak daun pisang yang kami ambil untuk membungkus nasi para pejuang PDRI”. Pada saat itu rakyat bukan saja sebagai pelengkap derita, tetapi juga sebagai penggerak utama perjuangan. Sungguh begitu besar pengaruh dan perjuangan rakyat pada masa PDRI untuk mempertahankan Republik ini. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya RI tanpa PDRI..

    b. Saran
    Penulis menyadari bahwasannya dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mohon para pembaca yang budiman memberikan saran dan kritik yang membangun.


    B. Dokumentasi
    Gambar 1:Tugu PDRI

    Ucapan terima kasih kepada Narasumber:

  1. Bapak Wali Nagari : Yonggy Fadly yang merupaka penduduk Koto Tinggi
  2. Bapak Rusli Said Dt.Rajo Imbang, orang yang mengetahui tentang PDRI
  3. Bapak Nurmalis, orang yang mengetahui tentang PDRI
  4. Bapak Zulfikri, anak dari karyawan pemancar radio AURI PDRI (Desember-Juli 1949)
  5. Bapak Erman Darwis Imam Bosa,penduduk setempat

Komentar